Patut diketahui, sebagai lakon carita, Ramayana walau sama-sama menghadirkan satu epos besar sebenarnya tidaklah mendapat tempat yang sama dengan Mahabarata. Orang Jawa cenderung menyukai yang kedua. Mahabarata dianggap memiliki totalitas, tiap tokoh dapat dikatakan memiliki perjalanan sendiri-sendiri. Paling tidak ini terbukti dari banyaknya carangan yang dihasilkan sementara Ramayana hanya berkutat pada satu alur besar yang dianggap cenderung statis dan linear. Yang juga menarik adalah hadirnya Buto (raksasa) dan juga Sang Punokawan: Semar beserta anak-anaknya; Gareng, Petruk dan Bagong.
Buto adalah mahluk yang selalu ada baik dalam lakon Ramayana maupun Mahabarata. Ia tidak memiliki nama, tidak memi-liki leluhur dan ti-dak datang dari satu kerajaan. Katakanlah ia semacam mahluk tanpa identitas dan ber-curriculum vitae kosong. Namun demikian ia selalu hadir, ada, pun ketika ke-matian telah menjemput.
Mereka ini pada suatu waktu akan hidup lagi dan begitulah seterusnya. Geertz menjelaskan
(1981: 363) imortalitas ini bagi orang Jawa kemudian disejajarkan dengan gambaran nafsu
yang harus selalu ditiadakan. Satu kali berhasil bukan berarti selamanya manusia telah
terbebas darinya (nafsu). Magnis-Suseno (2001: 166-167) menyebut fungsi buto sebagai
pengontras antara ‘yang Jawa dan bukan Jawa’ sekaligus pembelokan dari tragik gelap
Mahabarata. Secara teknis buto berfungsi adalah pengulur, penyekat dan menjaga adegan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar